Tiap orang 2 suara: pilih 1 jagoan Pria dan 1 Wanita!
Memuat dewan juri…
| Kriteria | Bobot | Penjelasan |
|---|---|---|
| Kesesuaian Tema | 30 | Menggambarkan pahlawan/tokoh perjuangan sesuai tema |
| Kreativitas & Orisinalitas | 25 | Ide unik, DIY, konsep berbeda |
| Kemiripan Karakter | 20 | Makeup, atribut, detail kostum |
| Penampilan | 15 | Percaya diri, pose, interaksi |
| Pesan Kemerdekaan | 10 | Pesan singkat/makna perjuangan |
Semua nama & angka di bawah ini fiktif, cuma contoh cara menghitung. Rumus yang dipakai persis sama dengan yang dipakai sistem saat hasil asli dihitung nanti.
Tiap juri memberi angka 0–100 di 5 kriteria. Angka itu dikali bobot kriterianya, semua hasilnya dijumlah, lalu dibagi 100 — karena jumlah bobot 5 kriteria itu tepat 100, jadi nilainya kembali ke skala 0–100. Contoh Juri 1 menilai Jumirah Rahayu:
8.470 ÷ 100 = 84,70
Itu nilai Juri 1 untuk Jumirah. Juri 2 dan Juri 3 dihitung
dengan cara yang sama.
Nilai ketiga juri dirata-ratakan. Tiap juri berbobot sama, tidak ada juri utama.
| Peserta | Nilai Juri rata-rata Juri 1 · 2 · 3 |
|---|---|
| Jumirah Rahayu | 86,2384,70 · 87,50 · 86,50 |
| Painem Sulastri | 78,3878,15 · 80,50 · 76,50 |
| Tukinah Wahyuni | 79,6079,60 · 81,60 · 77,60 |
| Sriyatun Marsini | 70,2570,35 · 72,10 · 68,30 |
(84,70 + 87,50 + 86,50) ÷ 3 = 86,23
Itu nilai juri Jumirah, yang nanti dipakai sebagai porsi 70%.
Suara tidak dipakai mentah, tapi diskalakan: peraih suara terbanyak di kategorinya dihitung 100, sisanya sebanding. Misal masuk 120 suara:
| Peserta | Suara | Nilai Voting skala 0–100 |
|---|---|---|
| Painem Sulastri | 45 | 100,00suara terbanyak |
| Jumirah Rahayu | 30 | 66,6730 ÷ 45 × 100 |
| Sriyatun Marsini | 25 | 55,5625 ÷ 45 × 100 |
| Tukinah Wahyuni | 20 | 44,4420 ÷ 45 × 100 |
Pembaginya 45 — suara peserta terbanyak di kategori itu — bukan total 120 suara.
Pembulatan ke 2 angka desimal dilakukan di akhir, bukan di tiap langkah — misal Painem 84,866 dibulatkan jadi 84,87.
Nilai juri Jumirah paling tinggi (86,23), kenapa bukan Juara 1?
Karena nilai juri hanya menentukan 70%. Painem kalah di nilai juri (78,38 lawan 86,23), tapi menang telak di voting (100,00 lawan 66,67). Selisih 33,33 poin di voting × 0,3 = 10 poin, sedangkan ketinggalan 7,85 poin di juri × 0,7 hanya 5,5 poin. Painem unggul tipis: 84,87 lawan 80,36.
Kenapa voting cuma 30%?
Supaya yang menilai kostum tetap dewan juri yang memakai 5 kriteria di atas, bukan siapa yang paling banyak temannya. Tapi 30% itu tetap menentukan — contoh di atas membuktikan voting bisa mengubah urutan juara.
Saya dapat 30 suara, kenapa nilai votingnya cuma 66,67?
Karena patokannya peraih suara terbanyak di kategori itu (45 suara = 100), bukan jumlah suara mentah. Kalau dipakai persen dari total suara, dengan banyak peserta tiap orang cuma dapat belasan persen dan bobot 30% jadi nyaris tidak berpengaruh sama sekali.
Suara Sriyatun lebih banyak dari Tukinah, kenapa Tukinah yang Juara 3?
Karena nilai akhir menggabungkan dua-duanya. Tukinah unggul di juri (79,60 lawan 70,25) dan itu cukup menutupi kekalahannya di voting. Sriyatun mendapat Juara Favorit — murni 100% dari suara terbanyak di luar Juara 1–3.
Kalau peraih suara terbanyak sudah jadi Juara 1, siapa Juara Favoritnya?
Turun ke peserta bersuara terbanyak berikutnya yang berada di luar Juara 1–3, seperti Sriyatun di contoh ini. Satu orang tidak mengambil dua hadiah sekaligus.
Nilai lengkap tiap peserta — nilai per juri, jumlah suara, sampai nilai akhir — ditampilkan terbuka di halaman Hasil setelah voting ditutup, bukan cuma diumumkan juaranya.